KRAKSAAN, 26 Juli 2026 — Kabar baik bagi masyarakat Kabupaten Probolinggo, khususnya para jamaah Masjid Agung Ar-Raudhah Kraksaan. Akses jalan menuju masjid dari sisi depan kembali dibuka sejak rampungnya pekerjaan renovasi jalan atau halaman masjid disamping alun-alun Kraksaan. Kebijakan ini resmi berlaku setelah adanya keputusan bersama rapat koordinasi (rakor) yang digelar pengurus Yayasan Masjid Agung Ar-Raudhah bersama sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Probolinggo.
Ketua Takmir Zubaidi menjelaskan, rapat koordinasi menghasilkan sejumlah keputusan strategis yang akan segera ditindaklanjuti. Salah satunya adalah membuka sebagian tiang bollard yang selama ini menutup akses jalan di sisi selatan depan masjid agar kendaraan roda empat dapat masuk menuju kawasan masjid.
Selain itu, jalur pedestrian di sisi utara juga akan dibuka sebagian sebagai akses kendaraan menuju area parkir utara. Sementara area di sisi selatan tetap tidak diperkenankan digunakan sebagai lokasi parkir bus guna menjaga kelancaran lalu lintas di sekitar kawasan alun-alun.
Masjid sebagai simbol Identitas Religius masyarakat
Masjid Agung Ar-Raudlah Kraksaan adalah simbol dan identitas religius Kabupaten Probolinggo.
Masjid bersejarah ini tidak sekadar menjadi tempat ibadah murni, melainkan episentrum peradaban dan simbol kentalnya tradisi kepesantrenan di wilayah tersebut.
Sejarah Singkat Masjid
Masjid Agung Ar-Raudlah diakui sebagai salah satu masjid tertua di Kabupaten Probolinggo. Berdiri kokoh di sebelah barat Alun-alun Kraksaan, keberadaan masjid ini menjadi saksi bisu perkembangan wilayah Kraksaan dari masa ke masa.
Masjid ini dibangun sekitar tahun 1734 oleh Kiai Haji Abdul Wahab. Beliau merupakan seorang ulama terkemuka asal Madura yang lebih akrab disapa oleh masyarakat setempat sebagai Kiai Ronggo.
Sosok Kiai Ronggo: Selain menjadi tokoh pejuang agama Islam yang menyebarkan dakwah bersama para santrinya, Kiai Ronggo diakui sebagai pendiri Kota Kraksaan dan pernah menjabat sebagai pejabat bupati pada masa tersebut.
Saat pertama kali didirikan, masjid ini dikenal dengan nama Masjid Jamik At-Taqwa. Pada tahun 1981, namanya diubah menjadi Masjid Jamik Ar-Raudlah. Baru pada sekitar era tahun 2000-an, status dan namanya dinaikkan menjadi Masjid Agung Ar-Raudlah seiring ditetapkannya Kraksaan sebagai ibu kota kabupaten.

Pilar masjid peninggalan Kyai Ronggo
Walaupun struktur luar bangunan telah mengalami renovasi total sebanyak beberapa kali sejak tahun 1960 demi menampung jemaah yang lebih banyak, takmir masjid tetap mempertahankan tiga peninggalan asli buatan Kiai Ronggo yaitu empat pilar penyangga utama (soko guru) yang terbuat dari kayu jati kokoh di dalam ruang utama masjid Bedug kecil asli peninggalan masa lampau dan juga Sumur tua di area belakang yang airnya sering kali dimanfaatkan warga sekitar karena dipercaya membawa berkah.

Budaya Kraksaan Kaum Santri
Kraksaan dan Kabupaten Probolinggo secara umum berada di wilayah kebudayaan Pandalungan, yakni zona leburan antara budaya Jawa dan Madura. Letak geografis ini melahirkan karakter masyarakat santri yang khas, kuat, namun adaptif.
Sentralitas Pondok Pesantren
Kraksaan dikelilingi oleh banyak lembaga pesantren berpengaruh —seperti Pesantren Zainul Hasan Genggong, Pesantren Al-Mashduqiah, Darul Hikmah, Pesantren Nurul Jadid hingga Nurul Qur’an. Hal ini membuat pemandangan pemuda-pemudi bersarung, berpeci, dan berhijab menjadi pemandangan harian yang lumrah dan membentuk lanskap sosial kota.
Kepatuhan dan Takzim kepada Ulama
Kebudayaan santri di Kraksaan menempatkan sosok kiai atau ulama bukan sekadar sebagai guru mengaji, melainkan sebagai penasihat sosial, rujukan politik, dan figur teladan hidup. Keputusan-keputusan komunal di masyarakat sering kali diambil setelah sowan (berkunjung) meminta restu kiai.
Tradisi Amalan Keagamaan Komunal
Budaya santri di sini hidup melalui kegiatan rutin seperti pembacaan manaqib, selawatan, istigatsah, dan tahlilan yang diadakan bergilir dari rumah ke rumah. Kegiatan subuh berjamaah, pengajian kitab kuning interaktif, serta peringatan hari besar Islam (seperti Hari Santri Nasional yang rutin memutihkan Kraksaan dengan lautan sarung) selalu diikuti ribuan warga.
Gaya Hidup Bersahaja (Slow Living)
Kehidupan di lingkungan santri Kraksaan kental dengan nilai-nilai kesederhanaan, kemandirian, dan ketenangan. Fokus utama masyarakat tertuju pada keberkahan hidup, jalinan ukhuwah Islamiyah (persaudaraan sesama muslim), serta gotong royong yang tinggi saat merawat fasilitas publik seperti kawasan masjid agung.
Hubungan antara Masjid Agung Ar-Raudlah dan masyarakat santri Kraksaan adalah hubungan yang saling menghidupkan. Masjid menjadi jangkar sejarah dan wadah fisik bagi berkumpulnya umat, mencerminkan suasana kehidupan religius rakyat setempat yang notabene adalah kaum santri. Masjid Agung Ar-Raudlah Kraksaan dan Budaya Masyarakat Santri adalah dua elemen yang saling mengikat dan membentuk identitas religius di ibu kota Kabupaten Probolinggo. (Inf)
