Ada kalanya kita bertanya: mengapa pengajian sudah sering, ceramah sudah banyak, tapi perubahan belum terasa?
Jawabannya sederhana. Karena selama ini kita hanya menyampaikan agama di permukaan. Kita sibuk mengajarkan “apa” yang harus dilakukan, tapi lupa bertanya “mengapa” dan “untuk apa”.Agama sejatinya bukan sekadar hafalan dan rutinitas. Agama adalah energi perubahan. Ia diturunkan untuk mengangkat manusia dari keterpurukan, dari kebodohan menuju pencerahan, dari ketergantungan menuju kemandirian.Di sinilah pentingnya bimbingan keagamaan yang transformatif.
Pertama, ia menyentuh akar, bukan hanya daun.
Di Rutan, saya melihat warga binaan diajarkan kaligrafi. Awalnya mereka hanya menarik garis. Garis yang lurus, berulang, penuh kesabaran. Dari situlah muncul perubahan: tangan yang tadinya kasar menjadi tenang, hati yang tadinya gelisah menjadi fokus. Bimbingan itu tidak hanya melahirkan karya, tapi melahirkan manusia baru.
Sama halnya dengan program zakat produktif. Jika hanya dibagi, maka bantuan itu akan habis. Tapi jika dibimbing, didampingi, dan diberi keterampilan, maka mustahik bisa berdiri di atas kaki sendiri. Itulah zakat yang mentransformasi.
Kedua, ia berani hadir di tengah konflik.
Hari ini kita hidup di tengah perbedaan. Ada yang kuat menekan yang lemah. Ada mayoritas yang tanpa sadar mendominasi.
Bimbingan transformatif mengajarkan prinsip “keseimbangan kekuatan”. Memberi ruang agar suara kecil tetap terdengar. Menolak pemaksaan. Membangun dialog, bukan debat kusir.
Karena agama yang benar tidak akan pernah melukai. Ia akan selalu menjadi peneduh.Ketiga, ia mengubah individu untuk mengubah peradaban.
Perubahan tidak pernah dimulai dari sistem. Ia dimulai dari satu orang yang berubah. Dari ASN, Penyuluh, yang mulai melayani dengan ikhlas. Dari guru yang mengajar dengan hati. Dari pemuda yang memilih jujur daripada curang.
Ketika nilai-nilai itu tumbuh, maka lahirlah masyarakat BerAKHLAK: Berorientasi Pelayanan, Akuntabel, Kompeten, Harmonis, Loyal, Adaptif, Kolaboratif.
Penutup
Bimbingan keagamaan tidak boleh lagi terjebak di dalam mimbar dan kitab. Ia harus turun ke pasar, ke sekolah, ke rumah sakit, ke Rutan, ke desa. Ia harus berani kotor-kotoran menyentuh persoalan rakyat.Karena tujuan akhir agama bukan hanya mengantar kita ke surga. Tapi juga membangun “surga” di bumi: masyarakat yang saling menghargai, saling menguatkan, dan saling memuliakan.Dan itu hanya bisa terjadi jika bimbingan kita berani transformatif. Berani mengubah, bukan hanya mengulang.
________________________
*Penulis adalah Ketua Pimpinan Daerah Ikatan Penyuluh Agama RI (PD.IPARI) Kabupaten Probolinggo, juga aktif sebagai Sekretaris Pimpinan Daerah Dewan Masjid Indonesia (PD.DMI) Kabupaten Probolinggo, Sekretaris Badan Kesejahteraan Masjid (BKM) Kabupaten Probolinggo, Sekretaris Pimpinan Daerah Badan Kontak Majlis Taklim ( PD BKMT) Kabupaten Probolinggo.
