LECES, 28 Juli 2026 – Dalam upaya memperkuat ketahanan keluarga sekaligus menekan angka stunting, Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Leces berkolaborasi dengan Puskesmas Leces menggelar program “Bimbingan Pernikahan dan Kesehatan serta Screening Layak Hamil bagi Calon Pengantin”.
Kegiatan yang berlangsung di Aula KUA Kecamatan Leces, Senin (27/7/2026) ini diikuti oleh puluhan pasangan calon pengantin. Program lintas sektor tersebut dirancang untuk memberikan pembekalan komprehensif, mulai dari kesiapan mental-spiritual hingga pemeriksaan kesehatan medis sebelum melangkah ke jenjang pernikahan.
Kepala KUA Kecamatan Leces, Hartono, S.Ag., menegaskan bahwa peran KUA saat ini tidak hanya terbatas pada urusan administrasi pendaftaran dan pencatatan nikah, tetapi juga memastikan kesiapan lahir batin para calon pengantin.
“KUA bertanggung jawab memastikan calon pengantin benar-benar siap secara lahir dan batin. Pernikahan membutuhkan kerja sama, pengelolaan konflik yang bijak tanpa kekerasan, serta pemahaman bahwa keluarga adalah madrasah pertama bagi anak,” ujar Hartono saat memberikan materi pembinaan.
Ia menambahkan, sinergi antara KUA dan Puskesmas merupakan bentuk pelayanan publik terpadu di tingkat kecamatan untuk mendukung program nasional dalam mencetak sumber daya manusia (SDM) berkualitas dan mempercepat penurunan angka anak gagal tumbuh (stunting).
Sebelumnya, pembekalan keagamaan dibuka oleh Nanang Suhartono, S.H., yang mengingatkan pentingnya komunikasi dan keluhuran akhlak dalam menjaga ikatan pernikahan (mitsaqan ghaliza) agar terwujud keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah.
Dari sisi medis, tim tenaga kesehatan Puskesmas Leces yang terdiri dari dr. Idwan, Mariana E., dan dr. Risma memberikan edukasi mengenai kesehatan pranikah. Topik yang dibahas mencakup kebersihan organ reproduksi, pemenuhan gizi seimbang, pencegahan anemia, hingga penerapan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).
Salah satu fokus utama dalam kegiatan ini adalah pemeriksaan Screening Layak Hamil untuk mengetahui kesiapan fisik calon ibu sebelum mengandung.
“Pemeriksaan kesehatan pranikah bukan untuk mencari-cari penyakit, melainkan langkah antisipasi. Jika ditemukan masalah medis lebih awal, pasangan memiliki waktu untuk memperbaikinya sehingga peluang melahirkan bayi yang sehat dan bebas dari risiko stunting menjadi jauh lebih besar,” terang dr. Idwan.
Senada dengan hal tersebut, Mariana E. menekankan bahwa perencanaan kehamilan yang matang merupakan bentuk tanggung jawab orang tua dalam melahirkan generasi masa depan yang sehat dan tangguh. (Inf)
