Kontributor : Tim Bimas Islam / Editor : Lutfi Hidayat
TONGAS, (31 Juli 2026) – Suara tebukan rebana membahana, memecah hening malam di pelataran Pendapa Kecamatan Tongas, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, Kamis malam (30/07/2026).
Ratusan Jemaah pria berbaju koko putih duduk rapi berbanjar. Ketika irama kian memuncak, tubuh-tubuh itu bergerak serempak—memiringkan bahu, mengayunkan tangan, dan menundukkan kepala dalam satu ritme penuh kidmat. Di tengah gemuruh vokal massal yang melantunkan pujian kepada Nabi Muhammad SAW, tercipta sebuah atmosfer spiritual yang begitu magis.
Inilah budaya dan tradisi ISHARI (Ikatan Seni Hadrah Indonesia)—sebuah warisan mahakarya budaya dan spiritual yang tak sekadar bertahan, tetapi terus berdenyut kencang di tengah gelombang budaya lagu pop juga sound “Horeg”.
Akar Spiritual dari Rahim Pesantren
Lahir dari rahim tradisi pesantren Jawa Timur pada sekitar awal abad ke-20, ISHARI bukanlah sekadar pertunjukan seni pertunjukan biasa. Akar spiritualnya menancap kuat pada pembacaan kitab-kitab pujian klasik seperti Al-Barzanji.
Bagi para ulama terdahulu, kesenian ini adalah metode dakwah kultural yang sangat cerdas.
Di zaman ketika masyarakat membutuhkan pendekatan yang luwes, musik dan gerak tubuh dirajut menjadi jembatan emosional. Tanpa mengikis esensi religius, keindahan irama dan kebersamaan digunakan untuk merangkul masyarakat luas.

Gerakan yang awalnya tumbuh secara sporadis tak ada komando di pelosok-pelosok desa ini, kemudian menemukan bentuk formalnya. Di bawah naungan Nahdlatul Ulama (NU), gerakan seni ini terwadahi secara resmi dalam wadah Ikatan Seni Hadrah Indonesia (ISHARI), menegaskan posisinya sebagai benteng kebudayaan Islam Nusantara.
Simfoni Gerak, Ketukan, dan Harmoni Massal
Daya pikat utama ISHARI yang membuatnya terus memikat lintas generasi terletak pada struktur penampilannya yang unik dan kolosal sangat tradisional (jauh dari modernitas). Setiap pertunjukan adalah perpaduan antara ketangkasan fisik, keahlian bermusik, dan kedalaman spiritual berdimensi tasawuf.
Ketukan Rebana yang bertenaga dalam setiap penampilan ISHARI memiliki tempo konstan, cepat, dan penuh energi. Ketukan ini menjadi “jantung” yang memandu alur Sholawat sekaligus mengomandoi setiap gerakan.
Gerakan Roddat merupakan gerakan tangan, bahu, dan kepala yang sinkron bukan sekadar koreografi, melainkan lambang kekompakan, kedisiplinan, serta keteguhan iman yang kokoh.
Harmoni penabuh rebana dan penggerak roddat memadukan dialog vokal antara pelantun utamadan paduan suara massal yang menghadirkan simfoni vokal menggetarkan dada siapa pun yang mendengarkannya.
Mengapa ISHARI Tak Meredup Dijalan Zaman?
Di era ketika hiburan digital dan musik modern mendominasi layar kaca dan gawai generasi muda, ISHARI justru membuktikan ketahanannya. Ada tiga pilar utama yang menjadi rahasia kelanggengan seni tradisi ini:
Kaderisasi Berbasis Organik: Regenerasi ISHARI tidak bergantung pada institusi formal yang kaku, melainkan mengalir alami di pesantren, madrasah, dan majelis taklim di hampir seluruh pelosok di Jawa Timur. Sejak usia dini, para santri telah diakrabkan dengan ketukan terbang dan bait-bait Sholawat.
Nilai Komunal Tanpa Sekat: Dalam barisan ISHARI, tidak ada panggung hierarkis yang memisahkan penampil senior dan junior. Semua duduk sejajar di atas alas yang sama, meleburkan ego individu dan mempererat tali persaudaraan (ukhuwah).
Keteguhan Budaya: Tanpa mengorbankan kesucian esensinya, ISHARI kini hadir secara inklusif. Seni ini kerap menghiasi festival kebudayaan megah, panggung perayaan warga, hingga peringatan hari besar nasional, menjadikannya tetap relevan dan dibanggakan oleh generasi muda urban.
Jadi Benteng Spiritual Nusantara
ISHARI adalah bukti hidup bahwa seni tradisional tidak harus punah digilas roda zaman. Ia bukan fosil kebudayaan yang hanya disimpan di museum, melainkan tradisi bernapas yang terus dirawat oleh masyarakatnya.
Selama denyut nadi selawat masih berhembus dan semangat kebersamaan terus dijaga, gemuruh rebana ISHARI akan senantiasa menjadi benteng budaya dan spiritual yang tak tergoyahkan di tanah Nusantara.
