Logo Bimas Islam
IkhlasBerdampakGuiding, Inspiring, Transforming
BerandaBeritaMenembus Kabut Pegunungan Tengger, Menjaga Nyala Toleransi di Ketinggian Kecamatan Sumber

Menembus Kabut Pegunungan Tengger, Menjaga Nyala Toleransi di Ketinggian Kecamatan Sumber

3 Agustus 2026
Humas Bimas Islam

Kontributor : Alfun Naim / Editor : Lutfi Hidayat – Tim Bimas Islam

SUMBER, (03 Agustus 2026) – Di atas gumpalan kabut dan udara dingin pegunungan Tengger di Desa Wonokerso, Kecamatan Sumber, Kabupaten Probolinggo tak menyurutkan derap langkah kaki menembus jalanan berliku untuk menenun benang-benang toleransi yang kian erat.

Suasana Desa Wonokerso riuh berbalut khidmat. Warga adat suku Tengger tengah merayakan Hari Raya Karo, sebuah momentum suci tempat doa-doa keselamatan dipanjatkan dan tali persaudaraan dianyam kembali. Namun, ada pemandangan menarik yang menghangatkan ruang tamu warga lereng Tengger.

Di antara lipatan kain batik dan sarung khas Tengger, hadir sosok Penyuluh Agama Islam Kecamatan Sumber, Alfun Naim. Bukan untuk berdebat atau membawa sekat, melainkan untuk duduk sejajar, merawat keharmonisan di bumi multikultural ini.

Kehangatan di Balik Pintu

Langkah kaki sang penyuluh disambut senyum mengembang dari tuan rumah. Pintu-pintu kayu rumah warga Tengger terbuka lebar tanpa canggung. Di ruang tamu yang sederhana namun sarat keakraban, cangkir-cangkir kopi hangat dan aneka sajian khas Karo disuguhkan.

“Perbedaan bukanlah sekat, melainkan perekat dalam menjalin silaturahmi serta memperkuat persaudaraan kebangsaan (ukhuwah wathaniyah),” ungkap Naim.

Gelak tawa dan dialog santai mengalir tanpa jarak. Kehadiran penyuluh agama Islam di tengah riuhnya ritual Karo menjadi bukti nyata bahwa moderasi beragama di lereng pegunungan Probolinggo ini bukan sekadar wacana di atas kertas, melainkan napas hidup sehari-hari. Ada rasa saling menghargai yang tulus terhadap tradisi dan kearifan lokal yang telah dijaga turun-temurun.

Menjaga Nyala Toleransi di Ketinggian

Perjalanan menuju Desa Wonokerso mungkin menuntut fisik yang tangguh karena medan pegunungannya, tetapi perjalanan spiritual dan kebudayaan di dalamnya jauh lebih menyentuh jiwa. Momen silaturahmi ini menegaskan betapa indahnya toleransi yang inklusif dan berkelanjutan saat semua pihak memilih untuk saling merawat, bukan meretakkan.

Sinergi yang terjalin indah di balik kabut Desa Wonokerso ini bak oase. Keharmonisan masyarakatnya layak menjadi cermin teladan tentang bagaimana indahnya hidup berdampingan dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika di Kabupaten Probolinggo.

Satu hal yang tertinggal di Wonokerso: pesan damai bahwa di mana pun kaki dipijak, persaudaraan antarumat manusia akan selalu menemukan jalannya untuk hangat.

TAGS:BERITABIMAS ISLAMLAYANAN
Bagikan: