Penyuluh Agama Islam KUA Tegalsiwalan Hadiri Tradisi Ziarah Kubur dan Makan Bersama Masyarakat Desa Gunung Bekel
GUNUNG BEKEL, TEGALSIWALAN Pada Jumat, 16 Oktober 2026, Tradisi ziarah kubur dan makan bersama yang telah mengakar dalam kehidupan masyarakat Desa Gunung Bekel, Kecamatan Tegalsiwalan, menjadi momentum penting untuk memperkuat nilai-nilai keagamaan, menjaga warisan budaya lokal, serta mempererat tali silaturahmi antarwarga.
Kegiatan yang diikuti oleh berbagai unsur masyarakat, mulai dari kalangan muda hingga lansia, berlangsung dengan penuh antusias. Kehadiran lintas generasi tersebut menunjukkan bahwa tradisi ini masih memiliki tempat istimewa dalam kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat setempat.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Tegalsiwalan, Ust. Aly Maschan Moesa, S.Pd., S.H. Kehadirannya bukan sekadar sebagai tamu, melainkan juga bagian dari peran strategis penyuluh agama dalam mendampingi masyarakat, memperkuat pemahaman keagamaan, dan membangun kehidupan sosial yang harmonis.
Peran Penyuluh Agama dalam Melestarikan Tradisi yang Bernilai Religius
Penyuluh Agama Islam memiliki peran penting sebagai pembimbing, pendidik, motivator, dan penggerak masyarakat dalam mengamalkan ajaran agama di tengah kehidupan sehari-hari. Melalui kegiatan kemasyarakatan seperti ziarah kubur dan makan bersama, penyuluh agama dapat hadir lebih dekat dengan jamaah serta memahami kondisi sosial dan keagamaan masyarakat secara langsung.
Dalam konteks kegiatan ini, peran penyuluh agama meliputi beberapa aspek penting.
Pertama, memberikan bimbingan keagamaan. Ziarah kubur menjadi sarana mengingat kematian, mendoakan orang-orang yang telah meninggal dunia, serta meningkatkan kesadaran untuk memperbanyak amal saleh. Rasulullah SAW bersabda:
“Kuntu nahaitukum ‘an ziyaaratil qubuuri, fazuuruhaa.”
Artinya: “Dahulu aku melarang kalian berziarah kubur, maka sekarang berziarahlah.” (HR. Muslim).
Kedua, memperkuat ukhuwah Islamiyah dan ukhuwah insaniyah. Penyuluh agama turut mendorong terciptanya hubungan yang harmonis antarmasyarakat, tanpa membedakan usia, status sosial, maupun latar belakang. Kebersamaan dalam kegiatan ini menjadi ruang untuk menumbuhkan rasa saling menghormati, kepedulian, dan persaudaraan.
Ketiga, menjadi penggerak moderasi beragama dan kerukunan sosial. Tradisi lokal yang tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syariat dapat menjadi media untuk menanamkan nilai-nilai kebaikan. Penyuluh agama berperan membantu masyarakat memahami batasan antara pelestarian budaya dan pelaksanaan ajaran agama, sehingga tradisi tetap terjaga tanpa meninggalkan tuntunan Islam.
Keempat, melakukan pendekatan dakwah yang membumi. Dakwah tidak selalu harus berlangsung di atas mimbar. Kehadiran penyuluh agama di tengah kegiatan masyarakat merupakan bentuk dakwah bil hal, yaitu menyampaikan pesan kebaikan melalui keteladanan, keterlibatan sosial, dan hubungan yang penuh kepedulian.
Kelima, memperkuat pembinaan generasi muda. Keterlibatan kalangan muda bersama para lansia menjadi kesempatan untuk mewariskan nilai penghormatan kepada leluhur, kepedulian terhadap sesama, dan semangat gotong royong. Penyuluh agama dapat memanfaatkan momentum tersebut untuk mendorong generasi muda agar tetap dekat dengan nilai-nilai agama sekaligus menjaga identitas budaya masyarakat.

Makan Bersama, Simbol Persaudaraan dan Gotong Royong
Setelah pelaksanaan ziarah kubur, masyarakat melanjutkan kegiatan dengan makan bersama. Suasana keakraban tampak dalam kebersamaan warga yang saling berbagi hidangan dan menjalin komunikasi antargenerasi.
Makan bersama bukan sekadar kegiatan menikmati hidangan, tetapi juga menjadi simbol kesederhanaan, kebersamaan, dan kepedulian sosial. Tradisi ini mengajarkan bahwa kebahagiaan masyarakat tidak hanya terletak pada kepentingan pribadi, tetapi juga pada kemampuan menjaga hubungan baik dengan sesama.
Antusiasme jamaah dari kalangan muda hingga lansia menjadi bukti bahwa nilai-nilai kebersamaan masih terpelihara dengan baik di Desa Gunung Bekel.
Dakwah yang Hadir di Tengah Kehidupan Masyarakat
Kehadiran Ust. Aly Maschan Moesa, S.Pd., S.H. sebagai Penyuluh Agama Islam KUA Tegalsiwalan mencerminkan pentingnya sinergi antara lembaga keagamaan dan masyarakat dalam membangun kehidupan yang religius, harmonis, serta berakhlak mulia.
Penyuluh agama diharapkan tidak hanya menjalankan fungsi penyampaian materi keagamaan, tetapi juga menjadi mitra masyarakat dalam menghadapi tantangan sosial di tengah perkembangan zaman yang semakin kompleks. Melalui pendekatan persuasif, dialogis, dan partisipatif, penyuluh agama dapat membantu menguatkan ketahanan keluarga, kepedulian sosial, serta semangat gotong royong.
Tradisi ziarah kubur dan makan bersama di Desa Gunung Bekel menjadi contoh bahwa pelestarian budaya lokal dapat berjalan seiring dengan pembinaan kehidupan beragama. Dengan pendampingan yang tepat, tradisi semacam ini dapat menjadi sarana memperkuat silaturahmi sekaligus menanamkan nilai-nilai keislaman dalam kehidupan bermasyarakat.
Ziarah mengingatkan manusia akan akhirat, makan bersama mempererat persaudaraan, dan peran penyuluh agama menghubungkan keduanya melalui bimbingan serta keteladanan.
Melalui kebersamaan tersebut, masyarakat Desa Gunung Bekel diharapkan terus menjaga tradisi yang membawa kemaslahatan, memperkuat kerukunan, dan mewariskan nilai-nilai luhur kepada generasi mendatang.
